Sabtu, 05 Januari 2019

Mahasiswa Muslim Aceh dan Tradisi Ilmu*


Oleh: Satria Gunawan**
Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad.
-Abu Hamid Al Ghazali-
Kutipan di atas mengisyaratkan betapa pentingnya menuntut ilmu, ditambah lagi sebuah hadist menegaskan bahwa “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin!”Maknanya: mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Oleh karenanya, sudah seharusnya mahasiswa Muslim khususnya di Aceh gigih dalam menuntut ilmu untuk menunaikan isi hadist tersebut. Mahasiswa adalah kaum terpelajar yang memiliki kewajiban menuntut ilmu, maka mahasiswa harus memiliki kebiasaan-kebiasaan yang dapat mengasah kemampuan intelektualnya guna menjadi agen perubahan bagi masyarakat, salah satu kebiasaan yang sangat baik dalam meningkatkan kemampuan intelektual adalah kegiatan yang berakar pada tradisi keilmuan. Tradisi ilmu merupakan aktivitas yang harus dibangun dan dibiasakan oleh kalangan Mahasiswa Aceh. Namun pada realitasnya, aktivitas mahasiswa Muslim di Aceh kini berbanding terbalik terhadap tradisi keilmuan yang dulu pernah dibangun pada masa kejayaan Islam di Aceh. Mahasiswa Aceh saat ini lebih senang menghabiskan waktunya di warung kopi dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat bagi kompetensi intelektualnya. Kebiasaan ‘ngopi’ dan duduk santai berlama-lama di Warung Kopi (Warkop) sudah menjadi rutinitas bagi kebanyakan kalangan muda yang gemar duduk berjam-jam di warkop. Umumnya mereka ditemani secangkir kopi dan sebagian lagi terpaku menatap layar laptop sambil memanfaatkan wifi gratis yang disediakan di warkop (Serambi.News/20 Agustus 2014).
Diskusi forum yang membahas suatu bidang keilmuan sudah jarang ditemukan dikalangan mahasiswa. Padahal, berbicara mengenai tradisi intelektual mahasiswa tentu tidak akan jauh dari pembahasan “empat tradisi mahasiswa”, membaca, menulis, berdiskusi, serta implementasi. Kegiatan inilah yang seharusnya diperkaya oleh mahasiswa di Aceh demi mewujudkan jati dirinya sebagai kalangan terpelajar. Kegiatan menghidupkan tradisi keilmuan sangat penting bagi mahasiswa, khususnya di Aceh. Sebab, tradisi keilmuan nantinya akan membuat Mahasiswa Aceh lebih peka terhadap segala tantangan zaman yang terus berkembang. Mengintegrasi setiap bidang ilmu dengan Al-Quran, menjawab isu sosial dan agama, mencerdasan masyarakat Aceh, dan lain-lain adalah tantangan yang harus dijawab. Jika dibiarkan, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika Aceh akan kehilangan eksistensi dan jati dirinya sebagai negeri ‘Syariat’ yang menjunjung prinsip rahmatan lil ‘alamin.
Bercermin pada semangat keilmuan Ulama Aceh, sejak dahulu, Aceh sangat dikenal dalam dunia Islam karena beberapa tokoh intelektualnya, yaitu Syeikh Abdurrauf As Singkily, Syeikh Nuruddin Ar-raniry, Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani, dan Syeikh Hamzah Fansuri. Mereka adalah intelektual sekaligus ulama yang memiliki rasa cinta ilmu yang tinggi, mereka rela menuntut ilmu hingga keluar negeri hanya untuk mendidik dan mengajarkan masyarakat Aceh ilmu agama pada masa itu. Syeikh Abdurrauf As Singkily contohnya, beliau adalah ulama yang pertama kali menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Melayu, hasil karyanya terbukti memberikan manfaat bagi dunia Islam hingga saat ini. Semangat menuntut ilmu para intelektual Aceh ini sudah seharusnya menjadi cerminan dan motivasi membangkitkan tradisi keilmuan dikalangan Mahasiswa Aceh, sebab Aceh kini sangat membutuhkan intelektual untuk membangkitkan kejayaan Aceh dalam bidang ilmu pengetahuan. Hendaknya, mahasiswa Aceh tak lagi memiliki pola pikir pragmatis terhadap ilmu, mencari ilmu di perkuliahan hanya dijadikan batu loncatan untuk sekedar mencari pekerjaan yang umumnya hanya berorientasi untuk mengisi perut sendiri.
Kaum muda Aceh perlu menyadari posisinya sebagai intelektual organik -meminjam istilah Antonio Gramschi- yakni intelektual yang hidup di masyarakat dan bermasyarakat. Artinya, mahasiswa yang hidup ditengah masyarakat harus bermanfaat bagi masyarakat. Bukan sekedar lulus, lalu hanya menambah persentase pengangguran di Aceh atau bekerja namun hanya untuk mengisi kebutuhan perut sendiri. Hendaknya, para mahasiswa juga harus menghilangkan persepsi bahwa perguruan tinggi hanya memiliki tujuan yang bersifat industrialistis, yaitu seperti dijelaskan dalam buku “Embrio Cendekiawan Muhammadiyah”, cenderung kepada pencetakan agen yang sebatas memenuhi tuntutan industri pasar, dan dikatakan hanya akan menghasilkan ‘sampah’ atau ‘limbah’ lulusan perguruan tinggi. Karena secara mentalitas hanya disiapkan untuk kebutuhan jangka pendek (Republika.co.id/14 September 2016). Maka dari itu, untuk dapat menjawab berbagai persoalan dan tantangan ke depan, baik dalam skala lokal maupun global, mahasiswa Aceh harus mempertegas peran dan fungsinya. Pertama, dengan menghidupkan kembali tradisi intelektual. Kedua, menjadikan kampus sebagai ‘tempat berkumpulnya intelektual bukan mesin pencetak agen industrialis. Ketiga, merespons isu. Hal inilah yang harus dilakukan Mahasiswa Aceh guna mengembangkan kemampuan diri sebagai intelektual.
Jadi, sudah sepatutnya Mahasiswa Aceh bergerak bersama membangun suatu komunitas keilmuan yang mengkaji suatu bidang ilmu tertentu dan isu-isu yang berkembang di masyarakat secara serius, agar nantinya hasil dari forum diskusi dapat menjadi solusi atas berbagai problematika yang ada. Hal seperti inilah yang harus dihidupkan di lingkungan kampus, supaya mahasiswa tak lagi hanya sekedar datang ke kampus, pulang, dan ke warung kopi hingga larut malam hanya untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat. Jika demikian, tampaklah ketidakseriusan seorang mahasiswa dalam menuntut ilmu.
Maka dari itu, dibentuknya berbagai komunitas keilmuan (Scientific Community) adalah hal yang sangat penting untuk menjawab dan menyelesaikan berbagai problematika yang muncul di masyarakat atau menciptakan forum diskusi berkelanjutan dikalangan mahasiswa, kajian tradisi ilmu hendaknya tidak hanya semacam tausiyah atau perkumpulan pengajian yang bersifat non-intensive, akan tetapi hendaklah dilakukan secara serius, mendalam, dan berkelanjutan. Hal seperti inilah yang dilakukan para intelektual Aceh pada masa kejayaan Islam di Aceh dahulu, semoga mahasiswa Aceh segera menemukan jati dirinya sebagai kaum terpelajar. Wallahu a’lam bish-shawab.
Satria Gunawan, 3 Januari 2019
Ketua Scientific Community Circle of Andalusia.

9 komentar:

  1. Masyaallah keren, lanjutkan dek....

    BalasHapus
  2. Cakeppp mas 👍 pesannya nyampe bgt. Salam buat mahasiswa Aceh semoga bisa menjadi pelajar yang seharusnya terpelajar, salam dari mahasiswa Jakarta 😆

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Kereen bg sat,, semangat teruuus yaa bg🔥

    BalasHapus

Mahasiswa Muslim Aceh dan Tradisi Ilmu*

Oleh: Satria Gunawan** Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adal...