Oleh: Satria Gunawan**
Menuntut
ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah
zikir. Mencari ilmu adalah jihad.
-Abu Hamid Al Ghazali-
Kutipan di atas mengisyaratkan
betapa pentingnya menuntut ilmu, ditambah lagi sebuah hadist menegaskan bahwa “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli
muslimin!”Maknanya: mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Oleh
karenanya, sudah seharusnya mahasiswa Muslim khususnya di Aceh gigih dalam
menuntut ilmu untuk menunaikan isi hadist tersebut. Mahasiswa adalah kaum
terpelajar yang memiliki kewajiban menuntut ilmu, maka mahasiswa harus memiliki
kebiasaan-kebiasaan yang dapat mengasah kemampuan intelektualnya guna menjadi
agen perubahan bagi masyarakat, salah satu kebiasaan yang sangat baik dalam
meningkatkan kemampuan intelektual adalah kegiatan yang berakar pada tradisi
keilmuan. Tradisi ilmu merupakan aktivitas yang harus dibangun dan dibiasakan
oleh kalangan Mahasiswa Aceh. Namun pada realitasnya, aktivitas mahasiswa
Muslim di Aceh kini berbanding terbalik terhadap tradisi keilmuan yang dulu
pernah dibangun pada masa kejayaan Islam di Aceh. Mahasiswa
Aceh saat ini lebih senang menghabiskan waktunya di warung kopi dengan
melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat bagi kompetensi
intelektualnya. Kebiasaan
‘ngopi’ dan duduk santai berlama-lama di Warung Kopi (Warkop) sudah menjadi rutinitas bagi
kebanyakan kalangan muda yang gemar duduk berjam-jam di warkop. Umumnya mereka
ditemani secangkir kopi dan sebagian lagi terpaku menatap layar laptop sambil
memanfaatkan wifi gratis yang disediakan di warkop (Serambi.News/20 Agustus
2014).
Diskusi forum yang membahas
suatu bidang keilmuan sudah jarang ditemukan dikalangan mahasiswa. Padahal, berbicara
mengenai tradisi intelektual
mahasiswa tentu tidak akan jauh dari pembahasan “empat tradisi mahasiswa”, membaca,
menulis, berdiskusi, serta implementasi. Kegiatan inilah yang seharusnya
diperkaya oleh mahasiswa di Aceh demi mewujudkan jati dirinya sebagai kalangan
terpelajar. Kegiatan menghidupkan tradisi keilmuan sangat penting bagi
mahasiswa, khususnya di Aceh. Sebab, tradisi keilmuan nantinya akan membuat Mahasiswa
Aceh lebih peka terhadap segala tantangan zaman yang terus berkembang. Mengintegrasi
setiap bidang ilmu dengan Al-Quran, menjawab isu sosial dan agama, mencerdasan
masyarakat Aceh, dan lain-lain adalah tantangan yang harus dijawab. Jika dibiarkan,
bukan suatu hal yang tidak mungkin jika Aceh akan kehilangan eksistensi dan
jati dirinya sebagai negeri ‘Syariat’ yang menjunjung prinsip rahmatan lil ‘alamin.
Bercermin
pada semangat keilmuan Ulama Aceh, sejak dahulu, Aceh sangat dikenal dalam
dunia Islam karena beberapa tokoh intelektualnya, yaitu Syeikh Abdurrauf As Singkily, Syeikh Nuruddin
Ar-raniry, Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani, dan Syeikh Hamzah Fansuri.
Mereka adalah intelektual sekaligus ulama yang
memiliki rasa cinta ilmu
yang tinggi, mereka rela menuntut ilmu hingga keluar negeri hanya untuk
mendidik dan mengajarkan masyarakat Aceh ilmu agama pada masa itu. Syeikh Abdurrauf As Singkily contohnya,
beliau adalah ulama yang pertama kali menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa
Melayu, hasil karyanya terbukti memberikan manfaat bagi dunia Islam hingga saat
ini. Semangat menuntut ilmu para intelektual Aceh ini sudah seharusnya menjadi
cerminan dan motivasi membangkitkan tradisi keilmuan dikalangan Mahasiswa Aceh,
sebab Aceh kini sangat membutuhkan intelektual untuk membangkitkan kejayaan Aceh
dalam bidang ilmu pengetahuan. Hendaknya, mahasiswa Aceh tak lagi memiliki pola
pikir pragmatis terhadap ilmu, mencari ilmu di perkuliahan hanya dijadikan batu
loncatan untuk sekedar mencari pekerjaan yang umumnya hanya berorientasi untuk
mengisi perut sendiri.
Kaum
muda Aceh perlu
menyadari posisinya sebagai intelektual organik -meminjam istilah Antonio
Gramschi- yakni intelektual yang hidup di masyarakat dan bermasyarakat. Artinya, mahasiswa yang hidup ditengah masyarakat
harus bermanfaat bagi masyarakat. Bukan sekedar lulus, lalu hanya menambah
persentase pengangguran di Aceh atau bekerja namun hanya untuk mengisi kebutuhan perut sendiri. Hendaknya, para mahasiswa juga harus menghilangkan persepsi
bahwa perguruan tinggi hanya memiliki tujuan yang bersifat industrialistis,
yaitu seperti dijelaskan dalam buku “Embrio Cendekiawan
Muhammadiyah”, cenderung kepada pencetakan agen yang sebatas memenuhi tuntutan
industri pasar, dan
dikatakan hanya akan menghasilkan ‘sampah’ atau ‘limbah’ lulusan perguruan
tinggi. Karena secara mentalitas hanya disiapkan untuk kebutuhan jangka pendek (Republika.co.id/14
September
2016). Maka dari itu, untuk dapat
menjawab berbagai persoalan dan tantangan ke depan, baik dalam skala lokal
maupun global, mahasiswa
Aceh harus mempertegas peran dan fungsinya. Pertama,
dengan menghidupkan kembali tradisi intelektual. Kedua, menjadikan kampus
sebagai ‘tempat
berkumpulnya’ intelektual bukan mesin pencetak agen
industrialis. Ketiga, merespons isu. Hal inilah yang harus dilakukan Mahasiswa Aceh guna mengembangkan
kemampuan diri sebagai intelektual.
Jadi, sudah
sepatutnya Mahasiswa Aceh bergerak bersama membangun suatu komunitas keilmuan
yang mengkaji suatu bidang ilmu tertentu dan isu-isu yang berkembang di
masyarakat secara serius, agar nantinya hasil dari forum diskusi dapat menjadi
solusi atas berbagai problematika yang ada. Hal seperti inilah yang harus
dihidupkan di lingkungan kampus, supaya mahasiswa tak lagi hanya sekedar datang
ke kampus, pulang, dan ke warung kopi hingga larut malam hanya untuk melakukan
hal yang tidak bermanfaat. Jika demikian, tampaklah ketidakseriusan seorang
mahasiswa dalam menuntut ilmu.
Maka dari
itu, dibentuknya berbagai komunitas keilmuan (Scientific Community) adalah hal yang sangat penting untuk menjawab
dan menyelesaikan berbagai problematika yang muncul di masyarakat atau menciptakan forum diskusi berkelanjutan dikalangan mahasiswa, kajian
tradisi ilmu hendaknya tidak hanya semacam tausiyah atau perkumpulan pengajian yang
bersifat non-intensive, akan tetapi
hendaklah dilakukan secara serius, mendalam, dan berkelanjutan. Hal seperti
inilah yang dilakukan para intelektual Aceh pada masa kejayaan Islam di Aceh
dahulu, semoga mahasiswa Aceh segera menemukan jati dirinya sebagai kaum
terpelajar. Wallahu a’lam bish-shawab.
Satria Gunawan, 3 Januari 2019
Ketua Scientific
Community Circle of Andalusia.